
Diadakan di Clark Freeport Zone, Filipina pada 22-26 Februari, Asia-Pacific Forestry Week 2016 mengundang orang yang tertarik dan berkomitmen mengelola hutan berkelanjutan di wilayah Asia dan Pacific untuk datang bersama-sama di salah satu pertemuan terbesar dan paling penting di bidang kehutanan di 2016 ini. Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) Republik Filipina adalah tuan rumah untuk acara tersebut.
Tema utama dari APFW 2016 adalah Kembangkan Masa Depan Kita!
Tema ini mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk mengintegrasikan kehutanan secara proaktif ke dalam konteks yang lebih luas pada pembangunan berkelanjutan. Tema ini juga secara eksplisit menunjukkan bahwa kehutanan seharusnya tidak lagi dilihat sebagai sektor terbarukan ekstraktif terpisah, melainkan mencakup pendekatan holistik ke paradigma pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan, yang di mana tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan sama-sama ditangani.
Lima urutan sub-tematik yang meliputi:

|
Tematik Urutan 1. Persiapan ke kesejahteraan: perdagangan dan pasar di Masa Depan di sesi Usaha Hutan Skala Kecil pada 25 Februari, 2016. |
APCS diundang untuk bergabung di Tematik Urutan 1. Persiapan ke kesejahteraan: perdagangan dan pasar di Masa Depan di sesi Usaha Hutan skala Kecil: Hambatan dan Peluang dalam partisipasi pada Tanggung Jawab Perdagangan Produk-Produk Kayu. Managing Director APCS, Bapak Loy Jones dipilih untuk menjadi pembicara pada topik tantangan sertifikasi kayu dan hutan untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Beliau dipilih karena beliau telah terlibat dalam kelompok sertifikasi sejak pertama kali didirikan dengan sistem FSC (Forest Stewardship Council) di Amerika Serikat pada tahun 2008. Bersama dengan Pak Jones ada Bapak Agus Sarsito, Kepala Penasihat Teknis di FLEGT VPA Multi - Pemegang Saham Program Kehutanan Indonesia (MFP3 1) dan Bapak Martin Greijmans, Senior Program Officer, Pusat Masyarakat dan Hutan (RECOFTC 2).

|
Dari kiri, Bapak Agus Sarsito , Bapak Loy Jones dan Bapak Martin Greijmans |
Berikut sebagian isi pidato beliau: "karena masalah kapasitas dan biaya, standarnya harus menjadi “mudah" terutama untuk pemilik lahan dan konsesi. Sama pentingnya, sebuah tolok ukur penyusunan pendekatan secara bertahap yang memberikan imbalan untuk UKM pada tingkat tertentu saat mereka berusaha untuk mendapatkan sertifikasi Pengelolaan Hutan FSC sangatlah penting dalam menyediakan akses pasar bagi UKM sebelum mendapatkan sertifikasi Pengelolaan Hutan FSC secara penuh, serta memberikan dorongan dan kemajuan dalam periode waktu yang lebih singkat karena dalam beberapa kasus dapat memakan waktu selama 3-4 tahun untuk mencapai sertifikasi FSC FM secara penuh.”
Pak Jones juga berharap badan akreditasi dan sertifikasi memasukkan pesan ini ke dalam hati dan mengurangi baik kompleksitas maupun birokrasi dari sistem yang ada saat ini.
Catatan kaki:
1 Multi-Stakeholder Forestry Program Indonesia
2 The Center for People and Forest
Sumber:
Aksi Social APCS; Indahnya Berbagi
Bagaimana Kita Melindungi Bumi Ini
Hari Satu Juta Pohon Sedunia
Manfaat Lahan Basah Bagi Kehidupan Manusia
Mari Lebih Menghargai Air
Virtual Office Membantu Menghemat Biaya Bisnis dan Menjaga Lingkungan
Bahaya Kantong Plastik
HARI HUTAN INTERNASIONAL: MOMENTUM ATAS PENTINGNYA FUNGSI HUTAN
EKSISTENSI HUTAN MANGROVE
Kapuk Indonesia yang Terkenal
YONGKI IKHTIYANTO SEBAGAI MANAGING DIRECTOR APCS
PT. PANDU MAHA WANA (ASIA PACIFIC CONSULTING SOLUTIONS) SEBAGAI ANGGOTA BARU FSC®
Menyambut Policy Manager FSC® Asia Pacific Di Indonesia
Pertemuan Regional Asia Pasifik : Pedoman Pengelolaan Hutan Alam Publik yang Berkelanjutan di Negara Tropis melalui Konsesi Hutan dalam Konteks Agenda 2030
UDARA BERSIH SEMAKIN “MAHAL†KARENA KARBON, MENGAPA?
Premier Asian Event 2016 untuk Industri Pulp, Kertas, Board, Kemasan, Cetakan dan Karton
TBI-APHI International Wood Trade Event 2016 “Indonesian Tropical Hardwood – Berkelanjutan, Kualitas, Bergaransi“
APCS merayakan ulang tahun yang ke-5!
Melawan Kebakaran Lahan Gambut dengan Peat FireX
Sertifikasi FSC memberikan manfaat finansial bagi bisnis hutan tropis, seperti ditunjukkan oleh laporan WWF terbaru
Penghancuran Gambut, Subsidensi Tanah dan Banjir di Asia Tenggara
APCS berpetualang!
Audit Rimba Raya Conservation 2015
Berita Terkini - Januri 2015
APCS's High Conservation Value Identification for APP: World's Largest and Most Complex Assessment