Berita

Asia-Pacific Forestry Week (APFW) 2016

April 13, 2016

Diadakan di Clark Freeport Zone, Filipina pada 22-26 Februari, Asia-Pacific Forestry Week 2016 mengundang orang yang tertarik dan berkomitmen mengelola hutan berkelanjutan di wilayah Asia dan Pacific untuk datang bersama-sama di salah satu pertemuan terbesar dan paling penting di bidang kehutanan di 2016 ini. Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR) Republik Filipina adalah tuan rumah untuk acara tersebut.

Tema utama dari APFW 2016 adalah Kembangkan Masa Depan Kita!

Tema ini mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk mengintegrasikan kehutanan secara proaktif ke dalam konteks yang lebih luas pada pembangunan berkelanjutan. Tema ini juga secara eksplisit menunjukkan bahwa kehutanan seharusnya tidak lagi dilihat sebagai sektor terbarukan ekstraktif terpisah, melainkan mencakup pendekatan holistik ke paradigma pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan, yang di mana tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan sama-sama ditangani.

Lima urutan sub-tematik yang meliputi:

  1. Persiapan ke kesejahteraan: perdagangan dan pasar di Masa Depan
  2. Menangani perubahan iklim: tantangan dan peluang
  3. Melayani masyarakat: kehutanan dan orang-orang
  4. Lembaga-lembaga baru dan pemerintahan baru
  5. Masa depan kita yang hijau: investasi penghijauan dan tumbuhkan aset alam kita

Tematik Urutan 1. Persiapan ke kesejahteraan: perdagangan dan pasar di Masa Depan di sesi Usaha Hutan Skala Kecil  pada 25 Februari, 2016.

APCS diundang untuk bergabung di Tematik Urutan 1. Persiapan ke kesejahteraan: perdagangan dan pasar di Masa Depan di sesi Usaha Hutan skala Kecil: Hambatan dan Peluang dalam partisipasi pada Tanggung Jawab Perdagangan Produk-Produk Kayu. Managing Director APCS, Bapak Loy Jones dipilih untuk menjadi pembicara pada topik tantangan sertifikasi kayu dan hutan untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Beliau dipilih karena beliau telah terlibat dalam kelompok sertifikasi sejak pertama kali didirikan dengan sistem FSC (Forest Stewardship Council) di Amerika Serikat pada tahun 2008. Bersama dengan Pak Jones ada Bapak Agus Sarsito, Kepala Penasihat Teknis di FLEGT VPA Multi - Pemegang Saham Program Kehutanan Indonesia (MFP3 1) dan Bapak Martin Greijmans, Senior Program Officer, Pusat Masyarakat dan Hutan (RECOFTC 2).

Dari kiri, Bapak Agus Sarsito , Bapak  Loy Jones dan Bapak Martin Greijmans

Berikut sebagian isi pidato beliau: "karena masalah kapasitas dan biaya, standarnya harus menjadi “mudah" terutama untuk pemilik lahan dan konsesi. Sama pentingnya, sebuah tolok ukur penyusunan pendekatan secara bertahap yang memberikan imbalan untuk UKM pada tingkat tertentu saat mereka berusaha untuk mendapatkan sertifikasi Pengelolaan Hutan FSC sangatlah penting dalam menyediakan akses pasar bagi UKM sebelum mendapatkan sertifikasi Pengelolaan Hutan FSC secara penuh, serta memberikan dorongan dan kemajuan dalam periode waktu yang lebih singkat karena dalam beberapa kasus dapat memakan waktu selama 3-4 tahun untuk mencapai sertifikasi FSC FM secara penuh.”

Pak Jones juga berharap badan akreditasi dan sertifikasi memasukkan pesan ini ke dalam hati dan mengurangi baik kompleksitas maupun birokrasi dari sistem yang ada saat ini.

 

Catatan kaki:

1 Multi-Stakeholder Forestry Program Indonesia

2 The Center for People and Forest

Sumber:

  • Bapak Loy Debral Jones
  • www.fao.org
Posted in Forest Management
TOP